Bocah yang Tak Pernah Memberi
Oleh : P. Erianto Hasibuan
Tanggal Posting : 23 September 2013

“Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku." (Mat. 18:5)
Persaingan untuk mendapatkan posisi terbaik sudah ada sejak era purbakala. Persaingan didorong oleh ambisi untuk mendapat yang terbaik. Tidak kecuali dengan para murid Yesus. Mereka berdebat tentang siapa diantara mereka yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Meski yang mereka perdebatkan siapa yang terbesar di dalam Kerajaan Sorga, namun pada pokoknya mereka sedang memperbincangkan siapa yang terbesar diantara mereka.
Mengapa persaingan itu senantiasa hadir di dalam setiap lini kehidupan? Karena setiap orang ingin mendapatkan lebih, bukankah yang terbesar akan mendapatkan bagian terbesar? Itulah pemahaman yang ada diantara para murid, sebagaimana yang diutarakan “the Venerable Bede” (Barclay, 2005 hal.183) bahwa pertengkaran ini timbul berhubung Yesus telah membawa serta Petrus, Yohanes dan Yakobus ke atas gunung pada waktu Yesus dimuliakan (Mat.17: 1). Murid-murid yang lain merasa iri hati. Penulis Injil Matius memang tidak menuliskan pertengkaran ini secara eksplisit, tetapi penulis Injil Lukas secara eksplisit menuliskannya. (Luk. 9: 46-48)
Pemahaman para murid akan persaingan, oleh Yesus diluruskan dengan mengambil contoh seorang anak kecil (bocah). Pertanyaannya tentu kenapa harus bocah? Apakah tidak ada ilustrasi lain yang lebih tepat utntuk digunakan Yesus? Bocah, yang ditempatkan di antara keduabelas murid Kristus itu, tentu saja tidak berdiri di situ penuh kesombongan. Kita dapat bayangkan, bahwa sebaliknya anak itu merasa agak malu di tengah-tengah orang dewasa, bahkan dapat dikatakan bahwa anak itu menginsafi kekecilannya (Heer, 2003). Di sinilah kepiawaian Yesus dalam memberikan contoh. Yesus meminta mereka untuk bertobat dan menjadi seperti anak kecil (bocah) dan merendahkan diri menjadi seperti anak kecil (bocah) (Mat. 18:3-4).
Pertengkaran para murid jelas dipicu oleh rasa ingin “meninggikan diri”. Mereka ingin tahu siapa di antara mereka yang terbesar, apakah Yakobus sebagai saudara Yesus?, Atau Petrus, seseorang yang memberikan pengakuan spektakuler akan kemesiasan Yesus? Atau bahkan murid yang lain? Ambisi ini ternyata tidak hanya sebatas di antara para murid, tetapi meluas kepada orang tua para murid. Lihat saja bagaimana ibu Yakobus dan Yohanes yang secara khusus datang menemui Yesus dan meminta agar kedua anaknya mendapat posisi terhormat (Mat. 20: 21).
Sifat dasar seorang bocah adalah ketulusan hatinya, dan itu tergambar dari keluguannya. Kita kerap tertawa melihat tingkah pola seorang bocah, karena reaksinya adalah reaksi spontan tanpa kamuflase (kepura-puraan). Bandingkan sifat itu dengan sifat para murid yang telah melakukan kalkulasi, apa yang akan mereka dapatkan dengan mengikut Yesus. Sekalipun tidak dikatakan secara eksplisit tetapi pada kesempatan lain, Petrus dengan segala sifat ekspresifnya mempertanyakan, apa yang akan diperolehnya setelah ia mengikuti Yesus. (Mat.19:27) Adakah seorang bocah yang berkenan bermain atau melakukan sesuatu dengan temannya mempertanyakan upah yang akan diterimanya? Sifat bocah penuh dengan sukacita, ia akan melakukan apapun yang ia sukai dengan sukacita, tanpa memperhitungkan seberapa banyak waktu dan energi yang telah dan akan ia keluarkan, atau apa upah yang akan dia dapatkan. Sebaliknya orang dewasa, penuh dengan perhitungan. Demikian juga halnya dengan peran yang akan dimainkan si bocah, ia tidak akan mempertanyakan apakah ia akan jadi pemimpin atau sekedar penggembira. Baginya bisa ikut serta dalam aktivitas kelompok mereka adalah sebuah sukacita besar. Karakter inilah yang ingin dihadirkan Yesus melalui perumpamaan seorang bocah.
Dengan karakter demikian, pada akhirnya Yesus sampai pada inti yang akan disampaikan kepada para murid perihal motif menjadi murid Yesus, dengan mengumpamakan menyambut seorang bocah sebagai menyambut Yesus.
Mengapa persaingan itu senantiasa hadir di dalam setiap lini kehidupan? Karena setiap orang ingin mendapatkan lebih, bukankah yang terbesar akan mendapatkan bagian terbesar? Itulah pemahaman yang ada diantara para murid, sebagaimana yang diutarakan “the Venerable Bede” (Barclay, 2005 hal.183) bahwa pertengkaran ini timbul berhubung Yesus telah membawa serta Petrus, Yohanes dan Yakobus ke atas gunung pada waktu Yesus dimuliakan (Mat.17: 1). Murid-murid yang lain merasa iri hati. Penulis Injil Matius memang tidak menuliskan pertengkaran ini secara eksplisit, tetapi penulis Injil Lukas secara eksplisit menuliskannya. (Luk. 9: 46-48)
Pemahaman para murid akan persaingan, oleh Yesus diluruskan dengan mengambil contoh seorang anak kecil (bocah). Pertanyaannya tentu kenapa harus bocah? Apakah tidak ada ilustrasi lain yang lebih tepat utntuk digunakan Yesus? Bocah, yang ditempatkan di antara keduabelas murid Kristus itu, tentu saja tidak berdiri di situ penuh kesombongan. Kita dapat bayangkan, bahwa sebaliknya anak itu merasa agak malu di tengah-tengah orang dewasa, bahkan dapat dikatakan bahwa anak itu menginsafi kekecilannya (Heer, 2003). Di sinilah kepiawaian Yesus dalam memberikan contoh. Yesus meminta mereka untuk bertobat dan menjadi seperti anak kecil (bocah) dan merendahkan diri menjadi seperti anak kecil (bocah) (Mat. 18:3-4).
Pertengkaran para murid jelas dipicu oleh rasa ingin “meninggikan diri”. Mereka ingin tahu siapa di antara mereka yang terbesar, apakah Yakobus sebagai saudara Yesus?, Atau Petrus, seseorang yang memberikan pengakuan spektakuler akan kemesiasan Yesus? Atau bahkan murid yang lain? Ambisi ini ternyata tidak hanya sebatas di antara para murid, tetapi meluas kepada orang tua para murid. Lihat saja bagaimana ibu Yakobus dan Yohanes yang secara khusus datang menemui Yesus dan meminta agar kedua anaknya mendapat posisi terhormat (Mat. 20: 21).
Sifat dasar seorang bocah adalah ketulusan hatinya, dan itu tergambar dari keluguannya. Kita kerap tertawa melihat tingkah pola seorang bocah, karena reaksinya adalah reaksi spontan tanpa kamuflase (kepura-puraan). Bandingkan sifat itu dengan sifat para murid yang telah melakukan kalkulasi, apa yang akan mereka dapatkan dengan mengikut Yesus. Sekalipun tidak dikatakan secara eksplisit tetapi pada kesempatan lain, Petrus dengan segala sifat ekspresifnya mempertanyakan, apa yang akan diperolehnya setelah ia mengikuti Yesus. (Mat.19:27) Adakah seorang bocah yang berkenan bermain atau melakukan sesuatu dengan temannya mempertanyakan upah yang akan diterimanya? Sifat bocah penuh dengan sukacita, ia akan melakukan apapun yang ia sukai dengan sukacita, tanpa memperhitungkan seberapa banyak waktu dan energi yang telah dan akan ia keluarkan, atau apa upah yang akan dia dapatkan. Sebaliknya orang dewasa, penuh dengan perhitungan. Demikian juga halnya dengan peran yang akan dimainkan si bocah, ia tidak akan mempertanyakan apakah ia akan jadi pemimpin atau sekedar penggembira. Baginya bisa ikut serta dalam aktivitas kelompok mereka adalah sebuah sukacita besar. Karakter inilah yang ingin dihadirkan Yesus melalui perumpamaan seorang bocah.
Dengan karakter demikian, pada akhirnya Yesus sampai pada inti yang akan disampaikan kepada para murid perihal motif menjadi murid Yesus, dengan mengumpamakan menyambut seorang bocah sebagai menyambut Yesus.
Motif PelayananAnda dan saya tentu memiliki motif yang berbeda untuk mengambil bagian dalam pelayanan. Setiap motif yang disampaikan tentu memiliki alasan masing-masing. Namun bagaimana sesungguhnya alasan untuk melayani sebagai murid Yesus ?
Seorang bocah adalah orang yang lemah, yang menggambarkan tentang orang yang memerlukan sesuatu (Barclay, 2006 hal. 371). Bocah tidak memiliki apapun yang bersumber dari dirinya, kecuali kalau ia diberi. Motif pelayanan terhadap sesama menurut konteks ini adalah memberi bukan menerima, sebagaimana yang dipertengkarkan para murid. Menjadi yang terbesar menurut persepsi para murid saat itu adalah untuk mendapatkan lebih dari yang lain. Menerima saudara (dalam arti seiman maupun sesama manusia ciptaan Tuhan) menurut konteks pengajaran Yesus adalah memberi kepada mereka yang memerlukan.
Seorang bocah tidak memiliki kekuasaan untuk memberi Anda kenaikan jabatan, bila Anda menerima dan melayaninya, ataupun membantu Anda untuk memenangkan sebuah tender, atau menambah pundi-pundi harta Anda. Yang dapat Anda lakukan kepada seorang bocah hanya memberi dan memberi. Memberi hidup bagi pelayanan adalah membantu dan mencintai orang yang di mata dunia tidak mempunyai apa-apa, maka Anda dan saya sudah melayani Allah. Jikalau Anda bersedia mengorbankan hidup untuk melakukan hal-hal yang kelihatannya tidak penting ini dan tidak pernah mencoba untuk menjadi apa yang oleh dunia disebut besar, maka Anda akan besar di hadapan Allah (Barclay, 2005 hal. 183).
Barclay dengan elok menuliskna cerita A.J Cronin mengenai jururawat desa yang ia kenal ketika berpraktik sebagai dokter. Selama dua puluh tahun, jururawat itu seorang diri melayani desa yang jaraknya sepuluh mil. “Saya takjub,” kata dokter itu, “atas keberadaannya, keteguhan hati dan keramahtamahannya. Ia rasanya tidak pernah merasa lelah pada malam hari untuk memenuhi panggilan yang mendadak. Gajinya hanya pas-pasan saja, dan pada suatu malam yang larut sesudah suatu hari yang sangat giat, saya mengajukan protes kepadanya, ‘Suster, kenapa anda tidak meminta mereka untuk membayar lebih banyak lagi? Allah tahu bahwa anda layak untuk itu’.” Jururawat itu menjawab, ”Kalau Allah tahu bahwa saya layak untuk itu, maka hal itu sudah cukup bagiku.” Ia bekerja bukan hanya bagi manusia, tetapi bagi Allah.
Tidak masalah apa motif Anda dan saya saat ini untuk melayani, tetapi mari memperbaharui motif pelayanan kita, sehingga kita tidak hanya sekedar mengatakan, tetapi melakukan seperti apa yang disampaikan Paulus: “Upahku ialah ini : bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil”. (1 Kor. 9: 18). Jadi tidak peduli saya menjadi apa dan orang lain menjadi apa, yang penting saya dapat memberi dan memberi tanpa memperdebatkan apakah orang lain juga akan memberi seperti yang saya lakukan. Selamat memberi untuk memberi.
Bahan bacaan :
- Barclay, William, The Daily Bible Study : The Gospel of Mark, Diterjemahkan oleh Wenas Kalangit, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2006.
- Barclay, William, The Daily Bible Study : The Gospel of Luke, Diterjemahkan oleh A.A Yewangoe, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2005.
- Heer, J.J. de, Tafsiran Alkitab : Injil Matius pasal 1-22, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2003.
- http://teologiawam.blogspot.com di akses 18 Mei 2012.