MENYANGKAL DIRI, MEMIKUL SALIB, DAN MENGIKUT KRISTUS

Oleh : Dian Penuntun

Tanggal Posting : 31 August 2014

Kel. 3:1-15; Mzm. 105:1-6, 23-26, 45; Rm. 12:9-21; Mat. 16:21-28

 

Polikarpus, Bapak Gereja dan Uskup di Smirna, dikisahkan sedang diadili di tengah stadion. Ia dianggap penghianat dan penghasut karena tidak mau menyembah kaisar sebagai Tuhan. Di tengan ancaman penyiksaan, Polikarpus diminta untuk menyembah kaisar. Polikarpus tetap menolak. Ia berkata: “Delapan puluh enam tahun aku mengabdi kepada-Nya, dan dalam sesuatu apa pun Ia tak berbuat salah kepadaku, bagaimana mungkin aku mengumpat Rajaku yang menyelamatkan aku?” Alhasil, Polikarpus pun dihukum mati. Namun, kematiannya justru menarik simpati banyak orang untuk mengenal Tuhan yang disembahnya.

 

Kisah tersebut di atas, juga kisah para martir lainnya, mengingatkan dan menegaskan bahwa harga mengikut Tuhan kadangkala amat mahal. Memang, dalam kehidupan masa kini, menyerahkan nyawa demi Yesus jarang terjadi. Namun, godaan untuk ‘menjual’ juga tidak kalah hebatnya. Ya, perjuangan menjadi martir saat ini tidaklah mudah. 

 

Yesus sendiri telah mengatakan hal itu saat Ia untuk pertama kalinya menyampaikan penderitaan yang harus ditanggung-Nya. Pernyataan itu mengundang protes dari Petrus. Seperti juga orang Yahudi pada umumnya, Petrus masih menganggap mesias yang hadir adalah mesias politis. Yesus kemudian menegur Petrus. Selanjutnya, Yesus memberikan pengajaran-Nya dengan mengatakan, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Mat. 16:24) Ada proses yang harus dilalui seseorang yang mau mengikut Yesus. Dengan kata lain, orang yang mau mengikut Yesus melewati proses, yaitu tidal mengutamakan kepentingan sendiri (berfokus kepada Allah, bandingkan teguran Yesus pada Petrus), siap menderita (salib lambang derita), dan penuh dengan kesetiaan. Hal itu terkadang tidak mudah, seperti yang dialami Polikarpus dan para martir yang lain.

 

Harga yang harus dibayar untuk mengikut Tuhan memang tidak murah, bahkan nyawa taruhannya. Itulah harga kemartiran. Namun, risiko itu akan dihanjar dengan harga yang pantas juga. Sebaliknya, justru mereka yang bersedia dan mempertahankan nyawanya, akan kehilangan nyawanya (ay. 25).

Ada tiga tahap yang akan dilalui orang yang mau mengikut Yesus. Pertama, melupakan kepentingannya. Itu berarti, Ia berfokus pada kepentingan Tuhan. Dalam bahasa teguran Yesus kepada Petrus, memikirkan apa yang dipikirkan Allah. Kedua, memikul salibnya, yaitu kerelaan menanggung derita. Ingat, bukan salib-Nya! Bukan derita Yesus yang kita pikul tapi derita kita, yang sudah pasti berbeda-beda. Ketiga, setia terus mengikut Yesus.

 

Dalam Keluaran 3:1-15 yang kita baca hari ini, kita menjumpai pergumulan Musa menolak panggilan Tuhan. Ia sadar betul, betapa sukarnya mengikut Dia. Namun, Tuhan berjanji akan menyertai. Penyertaan Tuhan juga menjadi ajakan pemazmur bagi umat Israel di pembuangan. Penyertaan Tuhan juga akan dirasakan umat-Nya yang setia kepada-Nya, dalam kehidupan saat ini. Bahkan, ganjaran kehidupan dijanjikan Tuhan diberikan bagi mereka yang setia.  (Dian Penuntun Edisi 18)