PERJUMPAAN YANG MEMBAWA PEMBAHARUAN HIDUP

Oleh : Sri Kurniati S

Tanggal Posting : 03 December 2013

Jika kepada kita saat ini ditanyakan “Sudah berapa lamakah Anda menjadi Kristen?” Tentu banyak sekali jawaban yang akan kita peroleh, ada yang mengatakan sejak kecil, ada yang mengatakan sejak menikah, atau bahkan ada yang mengatakan baru-baru saja ketika Tuhan Yesus menegurnya dan masih banyak lagi jawaban beragam yang diberikan. Lalu jika pertanyaan kedua ditanyakan kembali kepada kita, “Sudah dapatkah kita menghayati dan menerapkan kekristenan dalam keseharian kita?” Barangkali ada yang berani mengatakan “Sudah” atau ada yang hanya membungkam tidak menjawab.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, baik dalam pekerjaan maupun masyarakat, banyak sekali kita temui kejahatan, kecurangan, penindasan ataupun penghancuran, baik yang dilakukan oleh orang lain terhadap kita ataupun sebaliknya, kita yang melakukan terhadap orang lain. Banyak ketidakcocokan antara iman dan kehidupan nyata. Mengapa hal ini terjadi?

Mungkin karena kita belum mengalami perjumpaan yang sangat pribadi dengan Tuhan. Kita sering berdoa dan rajin beribadah, namun yang kita lakukan hanya sebagai rutinitas atau kewajiban belaka.

Salah satu bacaan hari ini, Lukas 19:1-10, menceritakan kisah Zakheus, seorang kepala pemungut cukai yang bertobat setelah berjumpa dengan Yesus. Yesus yang baru dikenalnya bahkan mau makan dan menginap di rumahnya. Pekerjaan Zakheus menurut masyarakat saat itu adalah pekerjaan yang berdosa karena menyengsarakan rakyat dengan meminta pajak yang sangat besar. Namun Yesus dengan sukacita mau menerima keberadaannya, sehingga pertobatan besar terjadi pada Zakheus. Bagaimana dengan kita?

Kita sering melakukan perjumpaan dengan Yesus melalui doa pribadi. Saat berdoa adalah saat di mana kita benar-benar bisa jujur terhadap diri sendiri. Kita tidak mungkin menyembunyikan kesalahan-kesalahan yang kita perbuat kepada Tuhan. Apapun perkataan yang kita ucapkan kepada Tuhan, Ia sangat tahu, dan Ia mau menerima kita dengan segala dosa yang kita perbuat .

Pertanyaan ketiga adalah, “Sudahkah kita yang telah merasakan perjumpaan pribadi denganTuhan mau membuat pembaharuan dalam hidup kita? Sudahkah kita menyatakan kasih kepada sesama sebagai langkah nyata kita sebagai orang Kristen? Mari kita lakukan, agar setiap orang bisa melihat Yesus dalam kehidupan kita.