GIGIH BERJUANG WALAU BEBAN MENINDIH

Oleh : Yarli Asido Sakti Tambunan

Tanggal Posting : 03 December 2013

”Korupsi...korupsi...korupsi terus. Seorang yang bekerja hanya sebagai walikota memiliki aset hingga 104,7 Milyar rupiah. Tidak mungkin,” Bejo protes setelah membaca isi berita pagi. ”Kalau begini terus, bangsa ini bisa hancur,” dia menambahkan. Melalui berita pagi itu, Bejo merasa Tuhan memanggilnya untuk berbuat sesuatu dalam memberantas korupsi. Dengan semangat berkobar, Bejo mendaftarkan diri menjadi anggota Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Enam bulan setelah itu, Bejo diterima menjadi anggota KPK. Bejo merasa Tuhan menyertai niat baiknya. Dua tahun kemudian, Bejo berhasil menangkap 1000 orang koruptor di Indonesia. Bejo menjadi terkenal sebagai ”malaikat pencabut nyawa” bagi para koruptor. Lima tahun kemudian, Bejo telah menangkap 1.000.000 koruptor di tanah air ini. ”Aneh,” Bejo berguman dan merenung di ruangan kantornya. ”Tuhan mengabulkan impianku untuk memberantas korupsi. Aku pun sudah bekerja keras dan berhasil menangkap banyak sekali koruptor di negara ini. Mengapa semakin banyak aku meringkus koruptor, semakin banyak pula pelaku korupsi di luar sana? Huffft....(suara menghembuskan nafas panjang),” Bejo mengeluh. ”Rasanya apa yang kulakukan kesia-siaan belaka,” Bejo merasa putus asa.

Kita juga mungkin pernah merasakan pergumulan yang dirasakan oleh Bejo. Kita memiliki impian, berjuang matimatian untuk mencapai impian tersebut, tetapi hasilnya tak kunjung tiba, banyak masalah, dan berat tekanannya. Apa yang harus kita lakukan?

Dengan langkah lunglai, Bejo keluar dari ruangan kantornya karena sudah waktunya pulang ke rumah. Bejo memasuki mobil pribadinya dan mengendarainya ke luar area kantor KPK. Bejo mengendarai mobilnya ke arah Salemba, karena memang rumahnya di daerah tersebut. Di persimpangan Cikini dekat bioskop Metropole, Bejo menghentikan mobilnya karena lampu lalu lintas bewarna merah.

”Tiiinn...tinnn...tinnn” bunyi klakson pengendara-pengendara mobil di belakang mobil Bejo. ”Maju woyy...!” teriak seorang pengendara motor.

Hey...ini kan lampu merah yang artinya kita harus berhenti,” protes Bejo membela diri. Akan tetapi, semua pengendara malah bertambah marah dan bunyi klakson semakin keras tanda protes terhadap sikap Bejo yang berhenti karena lampu merah.

”Sudah biasa kok jalan terus kalau jam pulang kantor,” kata seorang pengendara mobil dengan nada marah kepada Bejo sambil melawati mobil Bejo menerobos lampu merah.

Akhirnya, Bejo pun memutuskan untuk ikut menerobos lampu merah karena tak tahan mendengar bunyi klakson yang tak putus-putus dan makian dari para pengendara mobil lain. Setelah itu, hati nurani Bejo menghajarnya bagai gemuruh halilintar. ”Mengapa aku menerobos lampu merah dan mendengarkan mereka yang salah?” Bejo menyesal. Bejo teringat satu cerita dalam Alkitab mengapa Yesus marah terhadap hakim lalim dalam perumpamaan tentang hakim yang tak benar (Lukas 18:1-8). ”Aku kehilangan hatiku. Aku kehilangan iman (baca:keyakinan)-ku. Pasti Iblis senang karenanya.” Lalu Bejo bertekad dalam hati, di lampu merah lainnya ia akan tetap bertahan walaupun pengendara lain protes.

Saudara/i-ku, ketika perjuangan kita rasanya tak terlihat hasilnya, atau tak ada penghargaan terhadap jerih payah kita, atau beban menindih kita, berdoalah kepada Tuhan: ”Tuhan permintaanku hanya satu, bukan jauhkan aku dari segala masalah dan beban, tetapi berikan aku hati agar aku mampu bertahan dan berjuang. Amin.” Keep fighting but don’t lose your heart.