MEMBERITAKAN PERKATAAN KEBENARAN TENTANG KEBAIKAN TUHAN
Oleh : Rumanti Yuliasih
Tanggal Posting : 03 December 2013

Oprah Winfrey. Namanya mendunia lewat acara televisi yang dipandunya, The Oprah Winfrey Show. Acara tersebut dinobatkan sebagai acara talkshow dengan rating tertinggi berskala nasional yang pernah ada dalam sejarah pertelevisian di Amerika. Sungguh luar biasa!
Kisah hidup Oprah sendiri merupakan sebuah kisah yang luar biasa dan inspiratif. Dibalik kesuksesan yang ia raih saat ini, ia memiliki masa lalu yang kelam. Kedua orangtuanya berpisah, sehingga ia diasuh oleh neneknya sejak kecil di lingkungan yang kumuh dan sangat miskin. Saat berusia 9 tahun, ia diperkosa oleh pamannya beserta teman-temannya, dan terjadi berulang kali. Ia pun harus mengalami kenyataan pahit, hamil dan melahirkan saat berusia 13 tahun, namun bayinya meninggal dua minggu setelah dilahirkan. Sungguh, ia berada di titik zero, titik nadir, saat itu. Hidupnya terasa hancur dan sepertinya tidak ada lagi masa depan baginya.
Namun Oprah tidak lantas mengeluh dan menyesali nasibnya semata. Ia memilih lari ke rumah ayahnya dan sedia dididik sangat keras dan disiplin tinggi oleh ayahnya, yang mantan serdadu. Didikan keras itu mengubahnya menjadi wanita yang tegar, percaya diri dan berdisiplin tinggi. Ia kemudian menjadi siswi teladan di SMA, sehingga terpilih menjadi wakil siswi yang diundang ke Gedung Putih; memperoleh beasiswa saat kuliah; memenangi kontes kecantikan, dan saat itulah untuk pertama kalinya ia menjadi sorotan publik. Oprah yang semula terpuruk ke titik nadir, bangkit sebagai pemenang. From zero to hero.
Setiap orang -dalam kapasitasnya masing-masing- pernah mengalami situasi berada di titik nadir. Kegagalan, penderitaan, kesusahan, himpitan dari penderitaan, adalah hal yang bisa menimpa siapa saja. Ada berbagai bentuk penderitaan; salah satunya adalah penyakit. Sakit bisa membuat orang mengalami krisis.
Dalam Alkitab juga banyak dikisahkan orang yang mengalami krisis karena sakit. Diantaranya, 2 Raja-raja 5 mengisahkan tentang Naaman, panglima kerajaan Aram, yang mengalami sakit kusta. Juga Lukas 17:11-19 mengisahkan 10 orang yang mengalami sakit kusta. Tidak ada obat yang dapat memulihkan penyakit kusta saat itu. Secara agamawi, orang Israel menghayati penyakit itu sebagai kutukan Allah. Akibatnya, mereka dinajiskan! Sebagai seorang panglima tentara, Naaman pasti mengalami krisis. Akibat pengusiran dari tengah masyarakat, 10 orang yang sakit kusta juga mengalami krisis. Dalam keadaan seperti itu mereka benar-benar berada di titik nol, titik nadir, titik yang paling bawah. Secara manusiawi, tidak ada lagi pengharapan bagi mereka.
Namun, titik nol bukan berarti tanpa harapan. Tuhan selalu menghadirkan pengharapan bagi umat-Nya. Kesediaan Naaman mendengar perkataan hamba perempuan yang melayani istrinya membuatnya mencari pemulihan. Kesepuluh orang kusta itu juga memiliki pengharapan ilahi. Buktinya, saat mereka melihat Yesus, mereka berteriak memohon belas kasihan dan kesembuhan dari-Nya. Alkitab mengisahkan, dalam kemurahan Allah, Naaman sembuh. Dalam cinta kasih Yesus, 10 orang yang sakit kusta juga sembuh.
Kesembuhan yang dialami Naaman membuatnya mampu mengatakan bahwa di seluruh dunia tidak ada Allah selain di Israel. Ia menyadari karena Allah saja ia berhasil keluar dari keterpurukan. Salah satu dari 10 penderita kusta kembali pada Yesus dan mengucap syukur pada-Nya. Orang itu bukan Yahudi, melainkan orang Samaria yang sering disebut kafir. Yesus memuji orang itu, dan mengatakan bahwa kesembuhan itu bukan sekedar pemulihan fisik, tetapi juga keselamatan jiwanya.
Belajar dari kisah Naaman dan kesepuluh penderita kusta, marilah kita melihat kembali bagaimana Allah menguatkan, menghibur, mencukupkan, memulihkan dan memelihara kehidupan. Kemampuan untuk melihat kembali (bahasa Jawa: niteni) akan membuat kita mampu mempersaksikan kebaikan-kebaikan Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari.