MENJADI BIJAK, BUKAN TAMAK, TERHADAP UANG

Oleh : Moegi Handonowati

Tanggal Posting : 03 December 2013

Apakah bapak/ibu dan saudara yang terkasih pernah mendengar lagu ini?

Apa yang dicari orang... Uang! 2X

Apa yang dicari orang, pagi, siang, sore, petang...

Uang...., uang...., uang...., uang....uang.....uang, (maaf kalau saya lupa judulnya)

Demi kelangsungan hidup, kita perlu mencari sesuap nasi atau segenggam berlian?

Itu hanya sebuah pepatah saja, tapi pada hakekatnya kita perlu hidup dan untuk hidup kita perlu uang. Nah itulah, sadar ataupun tidak, semua orang, termasuk Anda dan saya, dalam hidup ini perlu mencari uang. Semua orang ingin menjadi kaya, apakah benar demikian ?

Seperti yang disampaikan oleh Amos (Amos 6:4- 6) kepada penduduk Samaria yang karena kejayaan hidupnya bermewah-mewah, pesta pora dan hanya mengandalkan kekuatan dan kemampuan manusia. Tuhan tidak menghendaki cara hidup seperti itu, sehingga Dia akan menghukum mereka melalui penaklukan dan pembuangan. Mereka lengah, sehingga dengan mudah mereka dapat ditaklukan.

Melalui Mazmur Daud (Mazmur 146) kita diingatkan untuk memuji dan memuliakan Tuhan, serta selalu mengandalkan Tuhan dan bukan manusia. Tuhan adalah penolong dan mengasihi orang benar dan Dia adalah Raja untuk selama- lamanya. Karena itu, kita harus selalu mengucap syukur apabila sampai detik ini kita masih diberi hidup, itu adalah rahmat dan karunia dari Tuhan.

Paulus mengajak jemaatnya untuk berlomba bukan mencari uang akan tetapi berlomba untuk iman yang benar kepada Yesus Kristus dan hidup yang kekal. Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup akan memberi keuntungan besar (I Timotius 6:6). Sebab kita tidak membawa apa-apa ke dalam dunia, demikian juga ketika kita meningalkan dunia ini.

Yang diperlukan adalah cukup dalam makanan dan pakaian karena orang yang ingin kaya terjatuh dalam pencobaan, ke dalam jerat, ke dalam berbagai nafsu hampa yang mencelakakan dan yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar kejahatan adalah cinta uang.

Karena itu, seharusnya yang kita kejar adalah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Kita juga harus memikirkan orang lain. Janganlah karena kita mampu dalam financial, kita menutup mata kepada saudara kita yang kurang mampu. Seperti Lazarus (Lukas 16:21) yang ingin menghilangkan laparnya dengan mengambil apa yang jatuh dari meja orang kaya, sungguh sangat kasihan, apakah kita juga tega apabila melihat saudara kita yang demikian? Tetapi apa yang didapatkan oleh Lazarus adalah hidup kekal di pangkuan Abraham, dan orang kaya mengalami penyiksaan kekal.

Kita sebagai orang pilihan Allah harus berlaku bijak dan tidak tamak terhadap uang sehinga kita tetap mempercayakan hidup kita kepada Allah.

Ada kesaksian, seorang ibu yang karena keterbatasannya, hanya mempunyai enam ribu rupiah. Dia berfikir, bagaimana dia bisa mendapatkan uang untuk membeli makanan bagi keluarganya esok pagi? Ibu itu berdoa dalam perjalanan pulang ke rumah: “Tuhan aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat, karena uangku yang sedikit tidak mencukupi untuk membeli makanan bagi seisi rumahku, aku mohon Tuhan beri aku cukup untuk makan satu hari.” Ketika dia berjalan sambil menunduk, dilihatnya kertas berwarna biru terlipat sekecil (8 lipatan). Dia yakin bahwa itu yang dia harapkan. Ketika dia ambil dan dia buka, kertas itu ternyata uang lima puluh ribuan. Sungguh dia bersyukur, Tuhan telah mendengarkan doanya. Dan yang penting lagi adalah bahwa permohonan dia bukan ingin kaya tapi hanya satu kali untuk makan ( untuk menyambung kelangsungan hidupnya )

Biarlah segala kelimpahan yang Tuhan percayakan kepada kita, tidak menjadikan kita tamak, tetapi boleh menjadi berkat juga buat orang lain dan tetap mengandalkan Tuhan dalam hidup kita.

Tuhan Yesus memberkati.